“Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemasMu, kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh. Masa hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kami kuat,: delapan puluh tahun, kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan, sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”
Mazmur 90:9-10
Betapa cepat rasanya waktu berlalu. Rasanya baru kemarin aku menjalani masa kecil yang menyenangkan dan masa remaja yang sangat indah di bangku SMP dan SMA. Masih terkenang masa-masa di bangku kuliah dan mulai melayani Tuhan pada saat itu. Ada tawa, ada sedih, dan ada begitu banyak kenangan yang bila diputar ulang masih tergambar semuanya dengan begitu jelas. Sepertinya semua peristiwa itu baru berlangsung kemarin. Ya kemarin.
Tak terasa hari berganti tahun. Aku bukan lagi kanak-kanak lagi. Bukan juga anak ABG yang baru mulai merasakan artinya jatuh cinta. Aku bahkan juga tidak sedang duduk di ruang kuliah menikmati nyanyian dosen yang kadang membosankan. Aku sudah melewati hari-hari itu. Lengkap dengan segala hal yang manis maupun pahit, kegagalan maupun keberhasilan, suka maupun duka. Semuanya telah kulewati.
Ada pertanyaan yang selalu mengusik hatiku. Apakah aku telah memberi makna pada hari-hari yang kujalani itu? Aku telah memberinya warna. Tapi sudahkah aku memaknainya dengan melakukan sesuatu yang berkesan buat orang lain? Atau hari-hari itu lewat begitu saja dengan serangkaian aktivitas yang kadang menjemukan? Hanya sekedar rutinitas, hanya sekedar menjalani hidup? Pernahkah aku mengisi hidupku lebih dari sekedar menjalaninya? Adakah hari-hari yang pantas kukenang dalam hidupku,lebih dari aku mengenang masa kecil, masa remaja, dan masa-masa penuh kesenangan di dalamnya?
Aku tertegun. Betapa fananya hari-hari itu. Seperti kata pemazmur bahwa hari-hari berlalu, berlalunya buru-buru. Ya itulah hidup.
Kuevaluasi diriku. Ternyata aku belum melakukan apa-apa. Aku belum memaksimalkan hari-hariku untuk berbuat sesuatu bagi keluargaku, bagi sahabat-sahabatku, bagi bangsaku dan bagi umat manusia. Berapa banyak jiwa yang sudah kubawa untuk Tuhan? Berapa waktu yang kuhabiskan untuk berdoa bagi mereka? Berapa banyak orang yang sudah kuberkati melalui hidupku? Rasanya aku tidak punya muka untuk menjawabnya.
Dalam perenunganku akan bertambahnya usiaku itu, aku mulai tersadar. Aku harus menyelesaikan panggilanku yaitu melakukan kehendak Bapa di sorga, sehingga ketika aku kembali pulang padaNya aku ingin mendengar Bapa berkata kepadaku ” Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia. Kamu telah mengakhiri pertandinganmu dengan baik. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuhanmu.” (Eva)
12 January 2009
Hari Berganti Hari : Sebuah Refleksi
Subscribe to:
Post Comments(
Atom)













0 komentar: