
Semua ini dimulai saat saya ikut retreat CHAMPION GATHERING yang diadakan oleh gereja kami. Dan saat itu bertepatan dengan hari kemerdekaan RI 17 August 2004. Di sana kami diminta untuk membuat surat pernyataan iman saya kepada TUHAN. Tujuannya adalah, saat iman seseorang turun, dengan membaca surat pernyataan iman ini, maka iman orang tersebut akan termotivasi untuk bangkit kembali.
Untuk hidup dalam kebenaran memang tidak mudah tapi bisa kita lakukan.
Saat retreat dilakukan, banyak orang yang kesaksian bahwa YESUS menjamah mereka, tapi coba lihat setelah 2-3 bulan ke depan. Banyak dari mereka yang kembali kepada kehidupan yang lain. Hal ini tak lain dan tak bukan, karena mereka tidak mampu mempertahankan cara hidup yang baru di dalam
TUHAN.
Karakter seseorang tidak bisa berubah dalam sekejap mata . Untuk merubahnya butuh waktu dan proses yang terus menerus selama hidupnya. Kalaupun seseorang berubah setelah beres retreat itu baru sebatas euphoria. baru sebatas di jiwa, belum sampai ke roh. Seseorang baru dapat kita katakan berubah setelah melewati masa 3 bulan ini.
Hal yang sama saya alami juga, setelah retreat selesai, saya rajin ikut persekutuan, rajin ke gereja, setiap gereja mengadakan acara, rajin datang. Namun di dalam pikiran saya selalu berkecamuk, “ Apakah TUHAN benar-benar mengasihi saya? “Apakah TUHAN benar-benar mengampuni saya?” “Apakah TUHAN benar-benar menerima aku sebagai anakNYA setelah aku mengalami kegagalan di masa lalu?” “ Apakah TUHAN itu benar-benar mengasihi aku?”. Memang pendeta, gembala dan pembimbing rohani selalu berkata bahwa ALLAH sungguh-sungguh mengasihi saya tapi saya menerimanya baru sebatas pengetahuan, baru sampai di perasaan saya, baru diterima sebatas pikiran dan belum sampai ke hati saya.
Dan saya baru benar-benar mengalami terobosan itu, saat hendak menjadi konselor di perayaan NATAL. Dalam perjalanan menuju gereja, TUHAN memperlihatkan kepada saya sebuah busur yang terbentang di langit luas. Yaaa….. PELANGI. Saat itulah saya bisa mendengar TUHAN berbicara “ ANAKKU, lihatlah pelangi ini. Ini adalah tanda kesetiaanKU kepadamu. AKU akan selalu mengiring langkahmu, AKU akan selalu menuntun jalanMU dan AKU akan selalu berada bersamamu. AKU tidak memperdulikan siapa engkau dahulu, tapi yang AKU pedulikan adalah siapa engkau sekarang di mataKU. Engkau adalah anak yang KU kasihi dan putri kesayanganku. Sampai kapan pun, engkau adalah milikKU yang paling berharga.”
Saat saya menerima penerimaan yang seutuhnya dari TUHAN, saya dapat berdamai dengan diri sendiri, berhenti menyalahkan diri sendiri atas kegagalan di masa lalu, berhenti mengutuki diri sendiri, berhenti bersikap independent, berhenti bersikap anti sosial. Dan proses pemulihan ini masih terus terjadi sampai saat ini dan masih akan terus berlanjut sampai menghembuskan nafas terakhir.
Tahun demi tahun, TUHAN tetap lakukan perkara yang sama kepadaku yaitu menarik aku dari tengah kesibukan dan memperlihatkan sebuah pelangi kepadaku dan itu selalu dilakukan di setiap akhir tahun. Bukan di awal atau tengah tahun, tapi di akhir tahun. Yang membuat saya terharu adalah TUHAN selalu berkata “ Pelangi ini adalah tanda kesetiaanKU kepadamu, engkau tidak usah takut menghadapi tahun yang akan datang. Tahun yang penuh dengan gejolak, tahun yang penuh dengan tantangan, tahun yang penuh dengan masalah. Tapi percayalah, AKU akan selalu setia bersamamu. Sama seperti pelangi ini akan selalu ada selama bumi ini ada. KesetiaanKU pun tidak pernah pudar sampai selamanya.”
Sama seperti NUH yang mendirikan mezbah bagi TUHAN sebagai tanda ikatan janji dengan TUHAN. Saya pun mendirikan mezbah perjanjian dengan TUHAN. Saya menjadikan pelangi sebagai tugu peringatan bagi saya. Sebuah tugu yang mengingatkan saya, dimana saat saya mengalami krisis rohani, saat dimana saya takut akan masa depan saya. Tugu peringatan itu kembali menguatkan saya.
Dalam perjalanan kehidupan, TUHAN banyak melakukan perkara mujizat kepada saya. Dan di tempat-tempat itu, saya mendirikan mezbah/tugu, sebagai peringatan bahwa TUHAN telah melakukan kesetiaannya kepada saya. Dan itu semakin menguatkan saya untuk tetap berjalan bersamaNYA.
Mari kita belajar dari bapak leluhur kita ABRAHAM, ISHAK DAN YAKUB. Saat mereka mengalami perjumpaan pribadi bersama TUHAN, mereka mendirikan mezbah sebagai tanda peringatan. Dan itu sangat mempengaruhi perjalanan iman mereka. Iman mereka bukan semakin lemah bahkan semakin diperkuat kepada ALLAH.
Kalau anda belum mendirikan mezbah/tugu-tugu peringatan akan perbuatan ajaib yang telah TUHAN lakukan atas hidup anda. Lakukanlah sekarang. Dengan senantiasa memandang kepad tugu peringatan ini, anda selalu diingatkan dan diperkuat dalam perjalanan iman anda.
TUHAN memberkati ! (lies)
11 January 2009
Pelangi KasihMu
Subscribe to:
Post Comments(
Atom)













0 komentar: