Pada suatu siang yang panas, seekor keledai sedang asyik makan rumput di sebuah padang rumput yang luas. Tiba-tiba ia melihat seekor semut sedang sibuk menarik seutas jerami yang besarnya kurang lebih 10 kali dari badan semut. Keledai itu terheran-heran melihat semut yang mau bekerja demikian keras. "Hai semut," katanya, "Sibuk benar engkau menarik beban yang 10 kali lebih besar dari badanmu. Aku benar-benar merasa heran mengapa engkau dapat melakukannya, padahal aku ini, baru dibebani satu karung saja, rasanya sudah sangat berat dan sukar untuk bergerak."
Semut itu berhenti sejenak, lalu ia menjawab: "Rahasianya mudah saja, yaitu aku bekerja untuk diriku sendiri, sedangkan engkau bekerja untuk majikanmu!" Lalu dengan bergegas si semut kembali kepada pekerjaannya semula, menarik batang jerami yang besar itu menuju ke sarangnya. Tinggal si keledai yang berdiri termangu sambil meresapi kebenaran arti kata-kata dari si semut yang kecil tapi bijaksana itu.
Kalau orang melakukan sesuatu yang tidak langsung tersangkut paut dengan kepentingannya, maka orang itu akan merasa berat. Meski sebenarnya apa yang dikerjakannya itu bukan hal berat. Lain halnya kalau apa yang dikerjakannya itu langsung berkaitan dengan dirinya. Tentu ia amat bersemangat melakukan apa saja; demi keluarganya, demi tokonya, atau perusahaannya.
Tetapi untuk majikan kita yang di sorga, Tuhan Yesus Kristus, banyak orang Kristen merasa berat untuk melakukan suatu pekerjaan untuk Dia. Hal yang kecil dirasakan sebagai beban yang berat. Acapkali harus didorong-dorong bapak pendeta terlebih dahulu, baru mau melayani.
Tetapi di mana ada kasih yang membara, tidak ada suatu pekerjaanpun yang dirasakan berat.
Kejadian 29:20 menyatakan, Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel."
Roma 11:36: "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dia Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! "
article taken from: Embun Surgawi pg 343-344
fwd by: Pdp. Iskandar Dachi
pic taken from: willsimpson.org
09 July 2009
Kisah Keledai dan Semut
Subscribe to:
Post Comments(
Atom)












1 komentar:
Puji Tuhan pak Iskandar dachi, saya sangat termotivasi tentang keledai dan semut.
Awal tahun saat redaksi warta jemaat di gereja saya minta di rolling, saya pikir ini berat, karena saya akan repot di weekend, padahal itu adalah waktu saya yang paling berkualitas untuk menyenangkan diri sendiri, sebab saya tahu banget kawan saya itu banyak berkorban waktu, moril dan materiil, bahkan sering dia tdk bebas berkegiatan pada hari sabtu bersama keluarganya.
Situasi menunjuk kepada saya, seorang ibu pekerja dan pada hari minggu jadi guru sekolah minggu....
berdasar itung-itungan saya ini "beban" tapi benar kata semut juga,bahwa semua tergantung cara pandang saya.
Puji Tuhan hingga hari ini saya mengambil bagian pelayan ini, dan saya sangat diberkati; sebab pada saat mengetik ayat2 saya tdk mau copy dari Alkitab elect tetapi saya mengetiknuya secara manual, keuntungannya saya jadi hapal ayat2 tsb, dan melalui artikel yang masuk saya jadi orang yang pertama diberkati sebelum para jemaat membacanya.
sabtu minggu saya memang kurang istirahat selalin membuat warta juga harus menyiapkan sekolah minggu, dan sampai hari ini puji Tuhan kesehatan dan sukacita Dia berikan, tinggal saya harus berhikmat membagi waktu bagi pelayan keluar dan pelayanan ke dalam yaitu Rumah tanggga.
semoga menjadi berkat.
amin